Saturday, May 24, 2014

Solo, Piringan Hitam, dan Surat Kabar

    Kota Solo merupakan kota yang cukup istimewa. Keberadaan dua istana di kota ini, membuat Kota Solo memiliki daya tarik tersendiri. Kota ini merupakan salah satu kota yang menjadi pusat kebudayaan luhur Jawa. Kota Solo telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Kota Solo pernah menjadi saksi mengenai kejayaan piringan hitam dan berkembangnya pers di Indonesia. Senin, 12 Mei 2014, saya dan seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2013 (Composer) mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke dua tempat bersejarah di Kota Solo , yaitu Perusahaan Rekaman Lokananta dan Monumen Pers Nasional. Jujur, meskipun saya orang Solo, tapi saya belum pernah sekalipun menginjakan kaki di kedua tempat bersejarah tersebut.

Lokananta, Kuno yang Bersahaja

Lokananta

                Lokananta berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 diresmikan oleh Menteri Penerangan, R.I. Soedibjo dengan nama Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementrian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta. Pagi itu Lokananta masih nampak sepi. Maklum, saat itu waktu baru menunjukkan pukul 09.00 WIB. Saya dan Vira yang berdomisili di sekitar Solo, datang terlebih dahulu di Lokananta. Saat itu hanya terlihat dua-tiga pegawai Lokananta saja yang bersliweran di depan kami.
                Kesan pertama saya ketika melihat Lokananta adalah usang. Maklum saja, bangunannya terlihat sangat kuno dengan cat berwarna krem yang agak mengelupas di sana-sini tetapi ternyata secara mengejutkan ruangan-ruangan di Lokananta bersih dan tertata. Sembari menunggu rombongan dari Jogja, saya dan Vvira melihat-lihat museumnya. Di ruangan tersebut, kami bertemu dengan salah satu pegawai Lokananta (yang maaf saya lupa namanya). Beliau membagikan sedikit cerita kepada kami mengenai Lokananta. Dari cerita beliau, ternyata Lokananta saat ini berjalan dengan dana sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Pegawai yang ada di Lokananta pun saat ini hanya tersis 18 orang dan hampir semuanya mempunyai jabatan rangkap, sungguh miris. Cerita berlanjut mulai dari hal-hal mistis, cerita mengenai gerakan SaveLokananta, dan cerita mengenai musisi-musisi yang mencoba mengembalikan kejayaan Lokananta dengan merekam lagu-lagu mereka di studio Lokananta.
                Setelah rombongan dari Jogja tiba di Lokananta, kami disambut di studio rekaman Lokananta. Ternyata studio rekaman yanga ada di Lokananta tidak seperti studio rekaman umumnya. Studio rekaman di Lokananta adalah ruangan berbentuk persegi panjang yang cukup luas. Ternyata ruangan tersebut memang dibuat luas karena biasanya digunakan untuk rekaman gamelan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu yang berbentuk cembung. Usut punya usut, ternyata bentuk kayu yang seperti itu membantu untuk memantulkan suara, sehingga suara yang dihasilkan bisa lebih kuat.
ruang studio Lokananta

salah satu sudut Lokananta

Sebelum berkeliling Lokananta, kami diberi penjelasan oleh Bu Tutik selaku kesekertariatan menjelaskan bahwa Lokananta awalnya merupakan perusahaan piringan hitam. Tujuan didirikannya Lokananta adalah sebagai transkrip berita antar RRI se-Indonesia. Tahun 1960, Lokananta diberi hak untuk mengkomersialkan hasil produksi tersebut. Akan tetapi, sekitar tahun 1978 Lokananta menghentikan produksi piringan hitamnya dan diberi hak untuk memproduksi sound recording (cassete audio) dan video. Pada tahun yang sama, Lokananta mulai memiliki studio rekaman sendiri. Tidak hanya rekaman lagu milik musisi Indonesia, tetapi rekaman asli lagu Indonesia Raya, pidato proklamasi, pidato presiden, hingga pengajian Al-Qur’an semuanya dimiliki Lokananta. Lokananta pernah menjadi penyelamat untuk Indonesia lho. Semuanya pasti masih ingat kasus lagu daerah Maluku yang berjudul “Rasa Sayange” yang diaku-aku oleh Malaysia, kan? Berkat rekaman asli yang dimiliki oleh Lokananta, Indonesia dapat membuktikan bahwa lagu tersebut memang asli Indonesia.
koleksi video tape
salah satu alat untuk membuat piringan hitam


Saya benar-benar terkesima dengan Lokananta, apalagi studio rekamannnya. Maklum, saya baru pertama kali masuk ke dalam studio rekaman. Saat itu di dalam studio rekaman sedangan didendangkan lagu “Yen Ing Tawang Ono Lintang”. Meskipun peralatan di studio Lokananta sudah cukup tua, tapi ternyata suara yang dihasilkan sangat jernih! Puas berkeliling di studio rekaman, kami lalu menuju tempat penyimpanan piringan hitam. Di dalam ruangan penyimpanan terdapat lima/enam rak yang berjejer rapi.  Rak tersebut berisi ratusan?atau bahkan ribuan piringan hitam dengan berbagai genre, mulai dari keroncong hingga rekaman isi surat dalam Al-Qur’an. Selepas dari ruang penyimpanan, saya menuju ruang editing. Saat itu di ruang editing, saya bertemu lagi dengan Bapak-yang maaf saya lupa namanya. Beliau lalu menunjukkan rekaman musik video milik Gleen Fredly yang direkam di studio rekaman Lokananta dan sontak berubahlah ruang editing menjadi tempat karaoke dadakan. Oh iya, fyi selama di Lokananta, musik terus berdendang dari speaker-speaker yang diletakan di beberapa tempat, full music lah pokoknya!


salah satu koleksi piringan hitam

koleksi piringan hitam di ruang penyimpanan

Lokananta memang tidak sejaya dulu. Meskipun saat ini telah dibuat berbagai gerakan seperti SaveLokananta, tetapi hal tersebut masih belum bisa mengembalikan kejayaannya. Memang sat ini merupakan era digital, semuanya serba digital. Piringan hitam, cassete audio memang telah dilupakan. Padahal piringan hitam merupakan salah satu cara untuk menghentikan pembajakan yang marak terjadi saat ini, saying sekali. Tapi manusia memang lebih suka sesuatu yang instan dan gratis. Mungkin karena proses pembuatan piringan hitam memang membutuhkan waktu yang lama dan alat yang mahal membuat orang-orang kurang tertarik dengan piringan hitam. Yah semoga saja Lokananta bisa kembali berjaya seperti dulu, amin!

piringan hitam yang berubah menjadi tokoh wayang
pemutar piringan hitam

Monumen Pers Nasional

                Selesai berkunjung ke Lokananta, rombongan lalu menuju Rumah Makan Taman Sari untuk makan siang dan sholat. Kumpul di kampus jam 6 pagi ternyata membuat teman-teman saya kelaparan, hahaha. Kami pun lalu melanjutkan perjalanan Monumen Pers Nasional. Monumen Pers Nasional diresmikan pada 8 Februari 1978. Monumen Pers Nasional memiliki tugas untuk mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana-sarana Pers Nasional.
                Gerimis menyambut kami di Monumen Pers. Hawa yang semilir membuat saya dan beberapa teman saya mengantuk selama acara penyambutan. Untung saja dari pihak Monumen Pers Nasional menayangkan sebuah film yang cukup menarik, sehingga membuat kantuk saya sedikit hilang. Setelah acara penyambutan selesai, kami dipersilahkan berkeliling di bangunan Monumen Pers Nasional sesuka hati kami. Tujuan pertama saya adalah melihat diorama mengenai perkembangan pers di Indonesia dan beberapa koleksi surat kabar  lama yang dipajang di dalam gedung induk. Setelah puas berkeliling di gedung induk, tujuan saya selanjutnya adalah museum. Di dalam museum terdapat banyak sekali benda-benda bersejarah yang dipamerkan. Mulai dari mesin ketik, kamera, plat cetakan perdana Kedaulatan Rakyat, dan benda-benda lainnya. Masing-masing benda memiliki nilai sejarah tersendiri, salah satunya adalah kamera milik Fuad Muhammad Syafruddin. Beliau adalah wartawan Harian Bernas di Yogyakarta yang meninggal dianiaya oleh orang tak dikenal. Kamera tersebut merupakan kamera yang biasa dipakai beliau untuk foto lepas dan meliput berita.




                Petualangan saya berlanjut ke lantai atas. Lantai dua merupakan perpustakaan sementara lantai tiga merupakan ruang penyimpanan koran-koran. Di dalam ruang penyimpanan, saya menemukan berbagai macam surat kabar dan majalah, bahkan surat kabar yang ada di luar Jawa juga disimpan dengan baikn disini. Dalam ruangan tersebut, ada seorang pegawai yang tengah mendata surat kabar-surat kabar yang masuk. Oh iya, Monumen Pers juga memiliki tugas untuk mendigitalisasi surat kabar-surat kabar tersebut. Sayangnya saya tidak sempat melihat proses digitalisasinya karena saya sendiri juga tidak mengetahui dimana ruangannya :’)


Solopos, surat kabarnya wong Solo
                 Setelah beberapa saat berada di ruang penyimpanan, saya lalu menuju lantai paling atas yang ternyata adalah rooftop. Dari rooftop, kami dapat menikmati Kota Solo dan berfoto-foto berlatarkan bangunan-bangunan di kota tersebut. Hawa segar sehabis hujan membuat saya dan beberapa teman saya betah berlama-lama di rooftop meskipun kami telah puas berfoto-foto. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Akhirnya saya dan teman-teman saya yang masih di rooftop memutuskan untuk turun, tapi ternyata JENG….JENG….JENG….pintu yang menghubungkan rooftop dengan bangunan terkunci dan tidak bisa dibuka dari luar. Kami mulai panik dan bingung. Untung saja kami segera mendapatkan bantuan dan kami semua dengan selamat sentausa sejahtera dapat kembali ke bus masing-masing, hahaha.
                Kami lalu tiba di penghujung acara field trip. Kira-kira pukul 4 sore, kami pun kembali ke Jogja. Saya dan Vira yang awalnya di Solo juga ikut kembali ke Jogja bersama rombongan, lumayanlah untuk menghemat uang kereta. Perjalanan Field Trip bersama Composer sungguh menyenangkan dan menambah wawasan. Pengetahuan saya menjadi bertambah setelah bertahun-tahun hanya memandangi dan melewati Monumern Pers serta Lokananta dari luar. Selain itu, foto-foto yang dihasilkan selama field trip juga bagus-bagus karena objek-objeknya sungguh menarik. Semoga kapan-kapan Composer bisa kembali mengadakan field trip seperti ini ke tempat yang berbeda tentunya!

Sunday, May 18, 2014

IU - My Old Story

Finally, the real IU is back!
Setelah tahun kemarin sempat kecewa sama lagu-lagunya di Modern Times, akhirnya IU kembali dengan suara halus nan sendunya itu*halah.
Mini Album yang berjudul "Flower Bookmark" ini memilih lagu My Old Story sebagai track utamanya Lagunya bagus, IU banget gitu lah. Emang paling suka kalo IU nyanyi balad, feelnya kerasa banget dan lagunya juga tenang banget, kalo kata papoy lagunya bikin tidur...dan omong-omong soal tidur saya sendiri juga ngantuk... lanjut besok ya...maafin aku...


Monday, December 23, 2013

Sebuah Catatan Kecil

Saya menerima kabar duka hari ini. Maghrib tadi ketika membuka line grup Komunikasi 2013, Alan, ketua angkatan saya mengabarkan jika ibunda dari salah satu dosen saya, yaitu Bang Abrar meninggal dunia. Saya ikut sedih mendengarnya. Saya teringat bagaimana di kelas Pengantar Ilmu Komunikasi A, Bang Abrar sering bercerita mengenai ibunya meskipun dengan ekspresi datar tapi saya sadar dan mengetahui bagaimana besarnya rasa sayang dan bakti Bang Abrar kepada ibundanya. Saya belajar banyak dari Bang Abrar mengenai bakti kepada orangtua, terutama Ibu. Saya ingat Bang Abrar pernah bercerita jika beliau menjadi dosen karena diperintahkan oleh Ibunya. Bang Abrar juga berkata beliau tidak pernah berani untuk membantah ibunya.
"Terima kasih atas perhatian dan doanya. Tugas keduniaan Ibu saya sudah selesai. Sementara tugas keduniaan kita masih menumpuk. Mari kita kerjakan tugas keduniaan kita sebaik-baiknya sembari berdoa kepada Tuhan agar kita sukses."-balasan SMS Bang Abrar pada Alan pukul 19.05
"Karena kita tahu bagaimana beliau mencintai Ibunya, kita juga ikut merasakan kehilangan yang beliau rasakan." @iqbalmaulana
Saya setuju dengan tweet Alan. Tanpa sadar kami yang berada dalam bimbingan Bang Abrar juga ikut merasakan kehilangan yang begitu dalam karena kami mengetahui bagaimana besarnya bakti Bang Abrar untuk ibunya. Saya disini hanya bisa mengirimkan doa dan Al-Fatihah kepada sosok ibunda Bang Abrar yang bahkan nama dan rupanya pun saya tidak tahu. Semoga beliau tenang dan diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Saya juga berdoa semoga ketika nanti saya menjadi seorang ibu, saya bisa dicintai dan diberikan bakti sepenuhnya seperti bagaimana Bang Abrar kepada Ibunya. Tapi sebelumnya ini adalah waktu saya maupun kalian untuk menunjukkan bakti kita kepada orangtua kita selama mereka masih berada di dunia ini, terutama Ibu, orang yag dititipi surga di telapak kakinya, orang yang kata-katanya mengandung doa dan ridho dari Allah SWT, orang yang bersusah payah mengandung dan melahirkan kita, menyayangi kita, memberikan segalanya kepada kita, orang yang murkanya adalah murka Allah SWT. Selamat hari Ibu :)

Wednesday, December 18, 2013

Indonesia Tuan Rumah Drama Korea?

Haloooo!!! lagi sakau tugas Penulisan Akademik nih jadinya belum sempat nge review Froze :(
Dan berhubung lagi sakau sama tugas Penulisan Akademik, saya mau nulis di sini saja sebentar untuk melepaskan penat di kepala saya.
Jadi ceritanya untuk tugas akhir Penulisan Akademik saya mau membuat karya tulis yang berhubungan sama Hallyu a.k.a Korean Wave. Untuk mencari data-datanya saya pun browsing di google untuk topik sinetron Indonesia yang mengadaptasi(atau meniru?) drama-drama Korea. Untuk sample nya saya pun mengambil sinetron Cinta Cenat Cenut punyanya SM*SH (kalo kalian gatau SM*SH tapi bisa mengakses blog ini saya nyatakan anda sebagai manusia ter-kudet!)
Nah saya pun mem-browsing di google dan sempat terdampar di blog orang-orang. Yang menarik disini adalah bagaimana penilaian mereka terhadap K-Drama yang lebih bisa merebut hati pemirsa Tanah Air ketimbang Sinetron produksi dalam negeri sendiri. Banyak sekali komentar yang disampaikan di blog-blog tersebut jika sinetron Indonesia kurang bermoral ketimbang Drama Korea. Saya sebagai salah satu pecinta K-Drama dan sebagai pemirsa tanpa sengaja tayangan sinetron Indonesia (karena kamar saya di depan ruang keluarga yang tiap malam dinyalakan sama si 'mbak' untuk nonton sinetron kesayangannya) pun mencoba untuk menganalisis mengapa hal ini bisa terjadi.
Pada awalnya saya mikir bukannya cerita Indonesia dan Drama Korea agak-agak sejenis?maksudnya Korea Drama sendiri juga banyak mengungkit cerita tentang percintaan antara orang kaya-miskin, perebutan harta warisan, dan sebagaiannya. Tapi setelah saya amati memang Sinetron Indonesia itu terlampau lebay. Di Korea ga ada tuh muka marah dengan zoom maksimal serta musik drum yang sok menegangkan itu. Selain itu dalam drama korea tokoh antagonisnya ga selebay di Indonesia. Alurnya di Korea juga lebih fokus dan konsisten. Di Korea sendiri jika memang telah disepakati drama akan berakhir pada episode 15, maka akan selesai di 15, jika 20, ya selesai di 20, kalau pun diperpanjang pastinya hanya beberapa episode tidak akan mencapai hingga Season 7 meski rating drama itu tinggi.

TO BE CONTINUED. SAYA ADA JANJI MAU NONTON HAHAHA, BYEEE!

Monday, December 9, 2013

Halo Desember!



Hello, hello people! Long time no see hehe...
Saat ini saya sedang menikmati hidup dengan menonton drama korea jadinya saya agak kurang mood untuk nulis di blog ini. *peluk si blog*
Rencananya saya mau memposting review film, tapi karena beberapa hal jadinya saya posting di postingan selanjutnya aja, hehe.
Jadi, minggu kemarin ada dua film yang sudah saya tonton di bioskop. Catet, di bioskop lho, berasa kaya banget kan saya! Tapi selesai nonton film yang kedua saya langsung telpon ibu minta ditransferin uang lebih awal :’)
Film yang pertama saya lihat adalah “Frozen”.  Saya lihat “Frozen” di bioskop gara-gara ga sabar nunggu dia keluar dalam bentuk vcd atau link downloadnya. Akhirnya saya pun berhasil mempengaruhi kakak sepupu saya untuk ikut nonton.  Yang kedua adalah sekuel dari The Hunger Games, yaitu “Catching Fire”. Awalnya saya menolak karena belum menonton sekuel pertamanya. Akan tetapi, karena saya punya teman-teman yang bicaranya manis banget, akhirnya saya menyerah dan ikut nonton sama mereka di bioskop. Iya ga sabar itu mahal, godaan teman adalah setan, makanya harus kuat-kuatin iman...

Tuesday, November 19, 2013

Cerita dari Orang Perbatasan (Review Tanah Surga...Katanya) #Bridgingcourse



Bukan lautan hanya kolam susu katanya/Tapi kata kakekku hanya orang-orang  kaya yang minum susu/Kail dan Jala cukup menghidupimu katanya/Tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara/Tiada badai tiada topan yang kau temui katanya/ Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia/Ikan dan udang menghampiri dirimu katanya/Tapi kata kakek awas ada udang di balik batu/Orang bilang tanah kita tanah surga /Tongkat kayu dan batu jadi tanaman katanya/Tapi kata dokter Intel belum semua rakyatnya sejahtera/Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri. (Tanah Surga)

Begitulah sebait puisi berjudul Tanah Surga yang dibacakan Salman (Osa Aji Santoso) dalam film “Tanah Surga....Katanya”. Film yang dirilis pada Agustus 2012 ini, berhasil membuat sang sutradara, Herwin Novianto, menyabet gelar sutradara terbaik pada Festival Film Indonesia 2012 lalu. Film ini mengisahkan mengenai kehidupan penduduk di perbatasan antara Indonesia-Malaysia dimana mereka mengalami dilema akan identitas kebangsaannya.

Dikisahkan, Salman (Osa Aji Santoso), seorang anak yang tinggal di sebuah dusun di Kalimantan Barat, tepat di perbatasan antara Indonesia dengan Sarawak, Malaysia. Salman tinggal bersama kakeknya yang seorang veteran bernama Hasyim (Fuad Idris) dan adiknya, Salina (Tissa Biani). Hasyim adalah seorang veteran yang rasa cinta tanah airnya sangat tinggi. Setiap hari Hasyim menceritakan kisah-kisah perjuangannya kepada Salman untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri Salman. Konflik pun dimulai saat Haris (Ence Bagus), ayah Salman dan Salina kembali dari perantauannya di Malaysia. Ia kembali ke Indonesia dengan tujuan untuk memboyong seluruh keluarganya pindah ke Malaysia, karena menurut Haris berdagang di Malaysia lebih menguntungkan. Sayangnya, ajakan tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh Hasyim. Hasyim dan Salman pun memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, sementara Haris dan Salina pindah ke Malaysia.

Cerita lalu berkembang dengan hadirnya Bu Astuti (Astri Nurdin), seorang guru relawan yang mengajar di satu-satunya sekolah di dusun tersebut. Dalam film ini, Bu Astuti diberikan porsi untuk menunjukkan keadaan fasilitas pendidikan serta menunjukkan bagaimana rasa cinta tanah air siswa-siswi di wilayah perbatasan tersebut. Hal tersebut ditunjukkan pada saat Bu Astuti memberikan tugas kepada siswa-siswinya untuk menggambar bendera merah putih. Hasil yang ditunjukkan siswa-siswinya pun membuat Bu Astuti terkejut karena diantara mereka, yang bisa menggambar bendera merah putih dengan benar hanya Salina. Lalu datanglah Dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman) yang ditugaskan untuk menjadi dokter pengganti di dusun tersebut. Dikisahkan pada suatu hari Dokter Anwar menggantikan Bu Astuti untuk mengajar di SD. Saat Ia meminta para murid untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, mereka pun dengan serempak menyanyi lagu Kolam Susu milik Koes Plus yang mereka anggap sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Dokter Anwar yang tercengang dengan hal tersebut lalu menceritakannya kepada Bu Astuti. Bu Astuti pun hanya tertawa mendengar cerita tersebut, ternyata Ia memang lupa untuk mengajarkan lagu Indonesia Raya kepada murid-muridnya. Keesokan harinya, Bu Astuti pun mengajarkan murid-muridnya lagu kebangsaan Indonesia Raya serta berencana mengadakan upacara bendera. Lalu diceritakan pula bahwa Bu Astuti kesulitan mencari bendera Merah Putih untuk upacara bendera.

Film yang diproduseri oleh Deddy Mizwar bersama Gatot Brajamusti ini sangat menunjukkan ciri khas sang produser yang penuh dengan sindiran-sindiran kritis. Film ini seolah dibuat untuk menyindir kepedulian pemerintah terhadap keadaan orang-orang di perbatasan. Dalam film ini, kita dapat melihat bagaimana orang-orang perbatasan kita lebih condong ke Negara Malaysia ketimbang Indonesia. Contohnya adalah Ringgit yang lebih laku daripada Rupiah Indonesia, para pedagang yang lebih memilih berdagang di Malaysia karena keadaan di sana lebih menguntungkan dan jaraknya lebih dekat ketimbang berdagang di Pasar Indonesia. Film ini juga mengkritisi perbandingan fasilitas antara di daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Ditunjukkan bahwa fasilitas di Malaysia lebih mapan meskipun daerah tersebut berada di daerah perbatasan sekalipun. Selain itu, kita seolah-olah disajikan sebuah ironi bagaimana nasionalisme para orang-orang yang tinggal di perbatasan dimana mereka tidak mengenal bendera atau lagu kebangsaan negara mereka sendiri. Penggalan lirik lagu Kolam Susu dari Koes Plus seolah menjadi inti akan sindiran tersebut. Film ini seolah mempertanyakan akan  kebenaran lirik lagu tersebut. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, tapi mengapa kita belum bisa menyebut Indonesia sebagai tanah surga? Mengapa orang-orang perbatasan lebih memilih berdagang ke Malaysia seperti yang dilakukan oleh ayah Salman?


Secara keseluruhan film ini memang cukup menarik. Dengan dibumbui dengan beberapa komedi dan adegan-adegan yang manis, film ini mampu membungkus tujuannya. Meski di pertengahan cerita film ini agak kehilangan fokusnya dan ada beberapa adegan yang dilebih-lebihkan serta iklan sponsor yang terlalu kasar, tetapi secara keseluruhan film ini dapat menyuarakan kritisnya kepada pemerintah agar lebih memperhatikan keadaan orang-orang di perbatasan. Di sisi lain, film ini juga merupakan sebuah renungan yang cukup bagus kepada kita untuk tetap menjaga nasionalisme kita. Kita diajak untuk berkaca kepada karakter Hasyim dan Salman yang teguh memegang jiwa nasionalis mereka apapun yang terjadi.

Sunday, November 10, 2013

can't help but falling

 I can't help but keep falling.
 yeah, i keep falling in love with him while i listening to this song.


IU - PEACH


Jakku nuni gane hayan geu eolgure 
Jillijido anha neon wae
 Seuljjeok useojul ttaen na jeongmal michigenne
Eojjeom geuri yeppeo babe
 Mworalkka i gibun

Neol bomyeon maeumi jeoryeoone ppeogeunhage
O eotteon daneoro neol seolmyeonghal su isseulkka
Ama i sesang mallon mojara
Gaman seo itgiman haedo yeppeun geu dariro
Naegero georeowa anajuneun neo

You know he’s so beautiful
Maybe you will never know
Nae pume sumgyeodugo naman bollae

Eorin maeume haneun mari aniya
Kkok neorang gyeolhonhallae
O eotteon daneoro neol seolmyeonghal su isseulkka
Ama i sesang mallon mojara

Gaman seo itgiman haedo yeppeun geu dariro
Naegero georeowa anajuneun neo
 Myeot beoneul malhaejwodo mojara
Ojik neoman algo inneun

Ganjireoun geu moksoriro
Norae bureul geoya na na na na

Jakku mami gane
Na jeongmal michigenne



TRANSLATION

My eyes keep going to that white face
Why don’t I even get sick of you?
When you slightly smile at me, I really go crazy
How can you be so pretty baby?

How can I explain this feeling?
When I see you, my heart becomes numb and sore
Oh, with what word can I explain you?

All the words of the world is probably not enough
With those legs that are so pretty by just standing still
You walk toward me and you hug me

You know he’s so beautiful
Maybe you will never know
I want to hide you in my embrace
I’m not saying this out of a young heart
But I really want to marry you

Oh, with what word can I explain you?
All the words of the world is probably not enough
With those legs that are so pretty by just standing still
You walk toward me and you hug me

Telling you multiple times is not enough
With this tickling voice
that only knows you
I will sing for you

My heart keeps going to you 
I’m really going crazy


Translation Credits: pop!gasa
Romanizations by: kpoplyrics.net